
Deepfake merupakan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memanipulasi media digital, seperti wajah, suara, atau gerakan seseorang, sehingga tampak sangat meyakinkan seperti nyata. Awalnya dimanfaatkan dalam dunia hiburan, kini penggunaannya telah meluas ke ranah politik, media, hingga membentuk opini publik.
Dengan teknologi ini, seseorang bisa ditampilkan seolah-olah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Karena kemampuannya tersebut, deepfake sering dianggap sebagai teknologi yang berpotensi menimbulkan risiko serius.
Dampaknya Terhadap Publik
Manipulasi Opini Publik
Salah satu dampak paling mengkhawatirkan dari deepfake adalah kemampuannya mempengaruhi opini masyarakat secara luas. Konten video yang terlihat autentik namun sebenarnya palsu dapat dengan cepat menyebar melalui platform media sosial, menciptakan persepsi yang menyesatkan. Banyak individu yang tidak menyadari bahwa informasi yang mereka lihat telah dimanipulasi secara digital.
Misalnya, dalam konteks pemilihan umum, deepfake bisa digunakan untuk menciptakan video seolah-olah seorang kandidat menyampaikan pernyataan kontroversial. Walaupun kemudian terbukti tidak benar, kerusakan reputasi dan kepercayaan publik sudah terjadi lebih dulu.
Tumbuhnya Krisis Kepercayaan
Deepfake juga berkontribusi pada penurunan kepercayaan terhadap media digital. Masyarakat kini menjadi lebih skeptis terhadap keaslian konten visual maupun audio, bahkan jika informasi tersebut benar adanya. Fenomena ini dikenal sebagai liar’s dividend, di mana semua konten berisiko dianggap hasil rekayasa, sehingga batas antara kenyataan dan manipulasi menjadi kabur.
Akibatnya, publik semakin sulit membedakan informasi yang valid dengan konten palsu, yang pada akhirnya memperburuk disinformasi dan melemahkan integritas informasi digital.
Baca juga artikel dari MIT Technology Review tentang deepfake dan kepercayaan.
Contoh Nyata Deepfake dalam Politik dan Dunia Hiburan
- BuzzFeed pernah merilis video palsu Barack Obama untuk edukasi publik soal bahaya deepfake. Meski bertujuan baik, video itu menunjukkan betapa mudahnya opini publik dimanipulasi dengan konten digital yang terlihat nyata.
- Dalam industri film, teknologi deepfake sering dipakai untuk menghidupkan kembali aktor yang telah meninggal, seperti Paul Walker dalam seri Fast & Furious. Meskipun hasilnya mengagumkan, penggunaan ini memicu perdebatan etis terkait hak digital dan privasi.
Cara Mengenali Deepfake
Amati Kejanggalan Visual
Tanda-tanda seperti mata yang jarang berkedip, suara yang tidak sinkron, atau ekspresi wajah yang tidak alami sering kali menandakan video deepfake. Penonton yang teliti bisa mengenali ketidakwajaran ini.
Manfaatkan Alat Deteksi
Beberapa platform, seperti Deepware Scanner, menawarkan teknologi untuk memeriksa apakah sebuah video merupakan deepfake. Selain itu, perusahaan besar seperti Microsoft dan Facebook tengah mengembangkan kecerdasan buatan khusus untuk membantu mendeteksi konten palsu ini secara lebih efektif.
Kesimpulan
Deepfake membawa banyak potensi, tapi juga risiko serius bagi persepsi publik. Dibutuhkan kesadaran, edukasi, dan aturan yang tepat agar teknologi ini tidak disalahgunakan. Kombinasi teknologi, hukum, dan kritis masyarakat adalah kunci menjaga keaslian informasi.
Baca juga: Apakah AI Akan Menggantikan Developer Web?
