
AI dan Neurosains kini menjadi dua bidang yang saling mendekat. Ilmuwan mulai menggunakan neurosains sebagai inspirasi untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Sebaliknya, AI juga dimanfaatkan untuk memahami otak manusia. Pertanyaannya, bisakah mesin benar-benar berpikir seperti manusia?
Hubungan AI dan Otak
Otak sebagai model
Dalam pengembangan AI modern, banyak peneliti menggunakan cara kerja otak manusia sebagai model. Neural network, misalnya, meniru bagaimana neuron dalam otak saling terhubung. Meskipun tidak sepenuhnya sama, pendekatan ini memberi hasil luar biasa dalam bidang seperti pengenalan wajah dan pemrosesan bahasa.
Lebih lanjut, model deep learning yang kompleks terus dikembangkan untuk memperbaiki kemampuan AI dalam mengambil keputusan. Hal ini terlihat dalam sektor medis, keuangan, dan bahkan kendaraan otonom.
AI bantu neurosains
Sebaliknya, AI juga membantu neurosains. Dengan machine learning, ilmuwan bisa menganalisis data otak dalam jumlah besar. Hal ini mempercepat penemuan pola pada penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson. Tak hanya itu, simulasi otak dengan bantuan AI memungkinkan pemahaman lebih mendalam terhadap fungsi kognitif dan memori.
Keterbatasan Mesin
Kesadaran dan emosi
Meski AI semakin cerdas, ada batas yang belum bisa dilampaui. AI belum bisa merasakan emosi, intuisi, atau kesadaran. Hal-hal ini adalah bagian penting dari pemikiran manusia.
Perbedaan utama antara manusia dan mesin meliputi:
- Kesadaran diri
- Empati dan nilai moral
- Pengalaman subjektif
- Kemampuan intuisi dalam pengambilan keputusan
Etika dan kontrol
Pertanyaan etis muncul saat AI semakin menyerupai manusia. Siapa yang bertanggung jawab jika AI membuat keputusan yang salah? Penting untuk membatasi kekuasaan AI agar tidak berdampak buruk bagi umat manusia. Maka dari itu, regulasi dan pengawasan terhadap teknologi AI harus menjadi perhatian global.
Kesimpulan
Alih-alih menjadi pesaing, AI dan Neurosains bisa saling melengkapi. AI dapat membantu memetakan otak manusia, sedangkan pemahaman tentang otak bisa membuat AI semakin pintar. Meski begitu, kita masih jauh dari mesin yang benar-benar berpikir seperti manusia. Kolaborasi antara manusia dan mesin adalah kunci menuju masa depan yang lebih cerdas dan aman.
Baca juga: Bioteknologi dan Masa Depan Medis: CRISPR, Vaksin, dan Genetik
