htmx vs react

HTMX vs React: Tren Baru dalam Pengembangan Web Modern

htmx vs react

Dunia web development terus berubah cepat. Framework dan library baru bermunculan, menawarkan cara berbeda dalam membangun aplikasi modern. Dua nama yang sering diperbincangkan saat ini adalah React, library populer dari Facebook, dan HTMX, teknologi ringan yang belakangan menarik perhatian developer. Pertanyaan pun muncul: Mana yang lebih tepat digunakan HTMX vs React di era sekarang?

Mengapa React Begitu Populer?

React telah menjadi tulang punggung banyak aplikasi web besar. Dengan konsep Component-Based Architecture, React memudahkan developer membangun antarmuka kompleks yang tetap terstruktur.
Beberapa keunggulan React antara lain:

  • Ekosistem luas: Didukung ribuan library tambahan.
  • Community support: Dokumentasi, forum, dan tutorial yang melimpah.
  • Kemampuan reusability: Komponen dapat digunakan kembali dengan mudah.
  • Integrasi kuat dengan SPA (Single Page Application).

Namun, React juga memiliki tantangan:

  • Membutuhkan bundling dan build tools (Webpack, Vite, dll.).
  • Learning curve cukup tinggi, terutama untuk hooks dan state management.
  • Bisa terasa “overkill” untuk website sederhana.

Apa Itu HTMX?

HTMX adalah library kecil berbasis HTML yang memungkinkan developer membuat aplikasi interaktif tanpa banyak JavaScript. Dengan HTMX, Anda bisa:

  • Menambahkan interaktivitas langsung lewat atribut HTML.
  • Melakukan AJAX, WebSocket, dan SSE tanpa menulis JS kompleks.
  • Membuat aplikasi web terasa “dinamis” dengan kode minimal.

Kelebihan HTMX:

  • Ringan dan cepat.
  • Tidak perlu setup build yang rumit.
  • Cocok untuk server-side rendering (SSR).
  • Belajar mudah karena tetap berpusat pada HTML.

Kekurangan HTMX:

  • Ekosistem masih kecil dibanding React.
  • Kurang cocok untuk aplikasi web yang sangat kompleks.
  • Dokumentasi dan tooling belum selengkap framework besar.

HTMX vs React: Mana yang Harus Dipilih?

Pilihan antara HTMX dan React sangat bergantung pada kebutuhan proyek:

  • Gunakan React jika:
    • Anda membangun aplikasi web berskala besar (misalnya dashboard SaaS).
    • Perlu manajemen state kompleks.
    • Menginginkan integrasi dengan ekosistem luas (Next.js, Redux, dll.).
  • Gunakan HTMX jika:
    • Proyek relatif sederhana (misalnya blog, e-commerce kecil).
    • Ingin interaktivitas tanpa beban bundler.
    • Lebih nyaman dengan HTML & server-side rendering.

Bahkan, bukan hal yang mustahil menggabungkan keduanya. HTMX bisa digunakan untuk bagian sederhana, sementara React menangani modul yang kompleks.

Kesimpulan

Perdebatan HTMX vs React bukan soal siapa yang lebih unggul, tetapi tentang konteks penggunaan. React tetap menjadi pilihan kuat untuk aplikasi besar dengan ekosistem matang, sementara HTMX hadir sebagai solusi segar dan ringan bagi developer yang ingin menghindari kompleksitas berlebihan.

Jadi, sebelum memilih framework atau library, tanyakan dulu: Apa kebutuhan proyek saya? Dengan jawaban itu, Anda bisa memutuskan apakah HTMX atau React yang paling sesuai.

Mau baca artikel menarik lain seputar sistem informasi dan teknologi web?Kunjungi SMTech.id untuk insight terbaru!

laporan skripsi sistem

Membuat Laporan Skripsi tentang Sistem Informasi Akademik

laporan skripsi sistem

Bagi mahasiswa jurusan sistem informasi, skripsi sering kali berkaitan dengan pembuatan atau analisis sistem informasi akademik. Tantangan terbesar bukan hanya mengembangkan sistemnya, tetapi juga menyusun laporan skripsi sistem yang sesuai dengan kaidah akademik. Artikel ini akan membahas langkah-langkah membuat laporan skripsi tentang sistem informasi akademik secara runtut dan efektif.

Struktur Umum Laporan Skripsi Sistem Informasi

1. Halaman Awal

Berisi judul skripsi, identitas mahasiswa, nama dosen pembimbing, serta lembar pengesahan.

2. Bab I – Pendahuluan

Menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan manfaat penelitian.

3. Bab II – Landasan Teori

Berisi teori-teori yang mendukung penelitian, misalnya teori sistem informasi, basis data, UML, atau metode pengembangan perangkat lunak.

4. Bab III – Metode Penelitian

Menjelaskan pendekatan penelitian, tahapan pengembangan sistem (misalnya Agile, Waterfall), serta alat bantu yang digunakan seperti UML atau ERD.

5. Bab IV – Hasil dan Pembahasan

Bagian inti skripsi yang berisi desain sistem, implementasi, serta hasil pengujian. Tabel, diagram, dan screenshot sistem sangat disarankan.

6. Bab V – Kesimpulan dan Saran

Menjelaskan ringkasan hasil penelitian serta memberikan saran untuk pengembangan sistem lebih lanjut.

Tips Membuat Laporan Skripsi Sistem Informasi Akademik

  • Ikuti pedoman penulisan kampus agar format sesuai standar.
  • Gunakan bahasa formal dengan kalimat efektif.
  • Sertakan diagram UML, ERD, dan flowchart untuk memperkuat penjelasan.
  • Tulis hasil pengujian sistem secara detail agar dosen pembimbing mudah menilai.
  • Jangan lupa daftar pustaka dengan sumber referensi yang kredibel.
  • Rencanakan penulisan sejak awal agar tidak terburu-buru menjelang sidang. Gunakan aplikasi pengelola referensi seperti Mendeley atau Zotero untuk memudahkan sitasi. Selain itu, perbanyak diskusi dengan dosen pembimbing agar isi laporan lebih terarah dan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Laporan Skripsi

  • Mengabaikan aturan penulisan kampus.
  • Penjelasan teori terlalu sedikit atau kurang relevan.
  • Tidak menuliskan hasil pengujian secara jelas.
  • Dokumentasi sistem kurang lengkap (diagram, tabel, atau kode program tidak dilampirkan).

Kesimpulan

Membuat laporan skripsi sistem informasi akademik membutuhkan ketelitian dalam penulisan, analisis, dan dokumentasi. Dengan menyusun laporan sesuai struktur baku, menambahkan diagram pendukung, serta menuliskan hasil penelitian secara detail, mahasiswa dapat menghasilkan laporan yang rapi, kredibel, dan bernilai akademis tinggi.

Baca juga: Tips Mengatasi Bug Saat Mengerjakan Tugas Sistem Informasi Kuliah

fitur baru next.js 15

Next.js 15: Fitur Baru yang Wajib Dicoba Developer

fitur baru next.js 15

Next.js 15 resmi dirilis dan siap dipakai di produksi. Rilis ini menghadirkan sederet fitur baru next.js 15 dengan mutu tinggi yang akan meningkatkan performa pengembangan, keamanan, dan fleksibilitas aplikasi Anda. Pengembang modern wajib coba update ini.

Fitur Baru Next.js 15

1. Turbopack: Dev Server 10x Lebih Cepat

Turbopack kini menjadi bundler default di mode dev. Startup server hingga refresh kode berjalan jauh lebih cepat—hingga 10x lebih gesit dibanding Webpack—meningkatkan produktivitas developer secara signifikan.

2. Server Actions Stabil – Tanpa API Routes

Server Actions sudah stabil! Anda bisa menjalankan logika server langsung dari komponen klien tanpa mengatur rute API manual. Cocok untuk formulir, pengiriman data, atau proses sensitif.

3. React 19 Support & Compiler Eksperimental

Next.js 15 mendukung React 19 secara penuh, termasuk React Compiler eksperimental, yang mendorong performa lebih baik serta error hydration lebih informatif.

4. Caching Pintar & Default “no-store”

Caching diubah menjadi opt-in: fetch, GET handler, dan navigasi klien kini default-nya tidak dicache. Selain itu, tag caching baru memudahkan invalidasi terstruktur, sehingga data tetap segar dan aman.

5. Static Route Indicator & Observability

Visualisasi route statis saat mode dev memudahkan debugging struktur halaman. Ditambah, instrumentation.js API membantu monitoring proses server lebih mendalam.

6. Tipe Aman via next.config.ts & ESLint 9

Sekarang Anda bisa buat konfigurasi next.config.ts dengan tipe aman (TypeScript) dan dukungan ke ESLint 9, sehingga konfigurasi lebih kuat dan bebas error.

7. Fitur Eksperimental Inovatif

unstable_after memungkinkan logic berjalan setelah response streaming selesai—berguna untuk logging/analytics. Ditambah fitur Tailwind integrasi (eksperimental), plugin image, dynamic hover, dan lainnya.

Kenapa Harus Segera Beralih ke Next.js 15?

  1. Produktivitas Dev Meningkat – Refresh instan, build lebih cepat berkat Turbopack.
  2. Koding Lebih Ringkas – Server Actions dan React Compiler mengurangi boilerplate.
  3. Optimasi Performa & SEO – Caching pintar, hydration error lebih jelas, dukungan React 19.
  4. Keamanan & Observabilitas Lebih Kuat – Instrumentasi, tipe aman, dan endpoint aman.
  5. Fleksibel untuk Masa Depan – Konfig dan plugin modern, plus dukungan ekosistem seperti Tailwind.

Kesimpulan

Fitur baru Next.js 15 membawa terobosan besar: performa dev luar biasa, caching pintar, keamanan lebih kuat, dan fleksibilitas dalam konfigurasi modern. Upgrade sekarang agar Anda tetap produktif dan bersaing di era pengembangan web canggih.

Ingin terus update dengan tren pengembangan web terbaru? Kunjungi SMTECH.id dan temukan artikel menarik seputar sistem informasi dan teknologi modern.

Overleaf untuk Mahasiswa

Cara Menggunakan Overleaf untuk Tugas LaTeX Mahasiswa

Di era digital, mahasiswa semakin sering diminta menulis laporan atau makalah dengan format LaTeX. Salah satu platform paling populer untuk mengerjakan LaTeX adalah Overleaf. Artikel ini akan membahas cara menggunakan Overleaf untuk mahasiswa agar tugas kuliah lebih rapi, profesional, dan efisien.

Overleaf untuk Mahasiswa

Apa itu Overleaf?

Overleaf adalah editor LaTeX berbasis web yang memungkinkan mahasiswa menulis, mengedit, dan berkolaborasi secara online. Tidak perlu instalasi rumit, cukup membuka browser, login, dan langsung mulai mengetik.

Mengapa Mahasiswa Perlu Menggunakan Overleaf?

Ada beberapa alasan mengapa Overleaf untuk mahasiswa sangat bermanfaat:

  1. Mudah diakses – Bisa digunakan di laptop maupun smartphone.
  2. Kolaborasi real-time – Cocok untuk tugas kelompok.
  3. Template lengkap – Banyak template untuk laporan, skripsi, jurnal, hingga CV.
  4. Penyimpanan cloud – File tersimpan aman tanpa takut hilang.

Cara Menggunakan Overleaf untuk Tugas LaTeX Mahasiswa

1. Membuat Akun Overleaf

  • Kunjungi overleaf.com
  • Klik Register lalu daftar menggunakan email kampus atau akun Google.

2. Memilih Template

  • Setelah login, pilih New Project.
  • Gunakan template sesuai kebutuhan: laporan, artikel ilmiah, atau presentasi.

3. Menulis Dokumen LaTeX

  • Overleaf terbagi menjadi dua layar: editor kode LaTeX dan preview PDF.
  • Ketik isi tugas di sisi kiri, hasil langsung muncul di sisi kanan.

4. Menambahkan Referensi

  • Mahasiswa bisa menggunakan file .bib untuk sitasi otomatis.
  • Integrasi dengan Mendeley atau Zotero juga tersedia.

5. Berkolaborasi dengan Teman

  • Klik tombol Share untuk mengundang teman sekelas.
  • Semua perubahan akan tersinkronisasi secara real-time.

6. Mengekspor Tugas

  • Setelah selesai, klik Download PDF.
  • Tugas siap dikumpulkan dengan format rapi dan profesional.

Tips Mengoptimalkan Penggunaan Overleaf

  • Gunakan keyboard shortcut agar menulis lebih cepat.
  • Manfaatkan fitur comment untuk revisi kelompok.
  • Simpan referensi di satu file .bib agar lebih terorganisir.

Kesimpulan

Menggunakan Overleaf untuk mahasiswa adalah solusi praktis bagi yang ingin menulis tugas LaTeX tanpa repot instalasi software tambahan. Dengan fitur kolaborasi, template lengkap, dan penyimpanan cloud, Overleaf memudahkan mahasiswa menghasilkan karya ilmiah yang rapi dan profesional.

Baca Juga : Penerapan AI dalam Sistem Informasi Akademik: Dari Chatbot hingga Analitik

cloud sistem informasi

Peran Cloud Computing dalam Sistem Informasi Akademik Modern

cloud sistem informasi

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang berperan penting adalah cloud computing. Dengan adanya Platform pengolahan dan penyajian data, pengelolaan data akademik menjadi lebih fleksibel, efisien, dan aman. Artikel ini membahas bagaimana cloud computing mendukung sistem informasi akademik modern di kampus.

Apa Itu Cloud Computing?

Cloud computing adalah teknologi yang memungkinkan penyimpanan, pengolahan, dan akses data melalui internet tanpa bergantung sepenuhnya pada perangkat lokal. Dalam konteks pendidikan, cloud membantu kampus mengelola Sistem pengelolaan data dan informasi akademik secara lebih terintegrasi dan hemat biaya.

Manfaat Cloud Computing untuk Sistem Informasi Akademik

1. Akses Data Kapan Saja dan di Mana Saja

Mahasiswa dan dosen dapat mengakses jadwal, nilai, atau materi kuliah secara online tanpa harus datang ke kampus.

2. Skalabilitas Sistem

Kapasitas penyimpanan dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan kampus, misalnya saat periode pengisian KRS atau pendaftaran mahasiswa baru.

3. Efisiensi Biaya

Kampus tidak perlu membeli server fisik dalam jumlah besar, cukup menyewa layanan cloud sesuai kebutuhan.

4. Keamanan Data

Penyedia layanan cloud umumnya memiliki sistem keamanan berlapis, termasuk enkripsi dan backup rutin, untuk melindungi data akademik.

5. Kolaborasi Lebih Mudah

Dosen dan mahasiswa dapat bekerja sama dalam proyek penelitian atau tugas kuliah melalui platform berbasis cloud seperti Google Workspace atau Microsoft 365.

Contoh Penerapan Cloud dalam Sistem Informasi Akademik

  • E-learning berbasis cloud untuk perkuliahan online.
  • Sistem KRS online yang berjalan di server cloud.
  • Repositori akademik digital untuk menyimpan skripsi, jurnal, dan penelitian.
  • Integrasi sistem pembayaran biaya kuliah melalui platform cloud.

Tantangan Penerapan Cloud di Kampus

  • Keterbatasan infrastruktur internet di beberapa wilayah.
  • Biaya langganan cloud jika tidak dikelola dengan baik.
  • Kekhawatiran terkait privasi dan regulasi data mahasiswa.

Kesimpulan

Cloud computing telah mengubah cara kampus mengelola sistem informasi akademik modern. Dengan keunggulan akses fleksibel, efisiensi biaya, hingga keamanan data, cloud menjadi solusi ideal untuk mendukung transformasi digital di dunia pendidikan. Namun, penerapan cloud tetap harus memperhatikan infrastruktur, biaya, dan kebijakan keamanan agar manfaatnya maksimal.

Baca juga: Penerapan AI dalam Sistem Informasi Akademik: Dari Chatbot hingga Analitik